ciri ciri siswa yang baik
Berikuttanda-tanda guru itu disukai siswa. 1. Nyambung/connect dengan siswa Guru yang baik bisa cepat konek dengan siswa dan merasakan kebutuhan mereka sebagai individu. Kehidupan siswa itu tidak terbatas di sekolah. Ada aktivitas, perasaan, dan masalah yang kompleks yang mereka hadapi di luar sekolah.
Denganmemberikan perhatian dan menanyakan kesulitan apa yang dimiliki, akan membuat siswa bersemangat belajar kembali. Menyindir, memarahi, atau melabeli siswa ini dengan sebutan malas adalah pantangan bagi seorang guru. Siswa ini membutuhkan perhatian dan pertolongan dari Guru Pintar supaya dapat belajar dengan optimal. 7. Sulit Beradaptasi
Kedisiplinansiswa di Sekolah jadi hal penting yang wajib diterapkan. Ada beberapa ciri-ciri siswa dikatakan sebagai orang yang disiplin. Seperti selalu tepat waktu, selalu mentaati peraturan, selalu mengerjakan tugas dengan baik, mengumpulkan tugas tepat waktu dan sebagainya. Saat berada di sekolah siswa harus selalu disiplin.
Anakmengkonstruksi pengetahuan Anak belajar melalui interaksi sosial dengan orang dewasa dan anak lainnya Kegiatan belajar anak merefleksikan suatu lingkaran yang tak pernah putus dan mulai dengan kesadaran kemudian beralih ke eksplorasi, pencarian, dan akhirnya ke penggunaan Anak belajar melalui bermain
Sekolahyang baik akan menghasilkan siswa yang dapat berpikir kritis - tentang masalah minat manusia, keingintahuan, kesenian, kerajinan, warisan, peternakan, pertanian, dan banyak lagi - dan kemudian melakukannya.
Frau Mit Hund Sucht Mann Mit Herz Kinox. Pahamifren, kamu tentu punya guru favorit di sekolah, kan? Nah, menurutmu, karakteristik guru yang baik dan disukai banyak siswa itu seperti apa sih? Apakah yang cara mengajarnya menyenangkan? Atau justru yang sering jamkos dan jarang masuk kelas? Biar bisa menjadi referensi untuk para guru maupun siswa, kali ini Mipi mau mengulas ciri guru yang disukai siswa, berdasarkan cuitan Twitter Kak Fikri, CEO Pahamify. Nggak terlewat, Mipi juga bakal membahas pentingnya guru yang baik dalam proses pembelajaran. Simak artikel ini sampai selesai, ya. Karakteristik Guru yang Baik dan Disukai Siswa Dari cuitannya, Kak Fikri menekankan karakteristik guru yang baik dan disukai siswa itu mampu akrab, peduli, dan mampu berbagi cerita dengan siswanya. Karakteristik guru seperti ini biasanya akan fokus pada pertanyaan, adakah yang bisa dibantu dari siswa tersebut? Kalau ada siswa yang cerita, ia akan tahu siswa tersebut butuh diberi saran atau hanya didengarkan. Secara umum, guru yang baik dan populer di kalangan siswa memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut Mampu Menjelaskan Materi Sesuai perannya yaitu mengajar, guru yang baik harus mampu menjelaskan materi pelajaran dengan baik sehingga mudah dipahami oleh siswa. Dalam artian, ia mampu menemukan cara mengajar yang efektif melalui metode belajar yang inovatif. Apabila proses pembelajaran yang diterapkan itu-itu saja, siswa akan cenderung bosan dan mengantuk di kelas. Akibatnya, bukannya memahami materi dengan baik, siswa bakal mencari kesibukan yang lain, atau bahkan memilih tidur saat jam pelajaran berlangsung. Biasanya, guru yang baik bisa mengetahui kapan waktunya menjelaskan materi, memberikan tugas, atau membuat kelompok diskusi. Tidak jarang, mereka juga melibatkan siswanya dalam merencanakan kegiatan pembelajaran agar materi yang disampaikan bisa diserap secara maksimal. Mengenali Siswa Siswa akan merasa dihargai jika guru dapat mengenalinya secara baik. Maka dari itu, daripada hanya membaca nama-nama siswa saat melakukan absensi, alangkah baiknya seorang guru juga berusaha mengenali nama siswanya. Jika perlu, cari tahu apa kesukaannya, perbanyak senyum, tanyakan kabar, dan ucapkan terima kasih saat menerima bantuan. Cobalah untuk memulai percakapan santai dengan siswa sebelum menjelaskan materi pelajaran. Cara seperti ini akan memperkuat keakraban antara siswa dan guru. Siswa juga akan merasa diperlakukan dengan baik oleh gurunya. Tidak Membandingkan Siswa Tidak ada orang yang suka dibanding-bandingkan dengan orang lain, begitu juga siswa. Karakteristik guru yang baik biasanya tahu bahwa kemampuan setiap siswanya berbeda-beda. Ada yang mampu memahami materi secara cepat, ada juga yang harus dijelaskan secara rinci terlebih dahulu baru bisa menyerap materinya. Maka dari itu, guru yang disukai siswa tidak akan membandingkan atau menghakimi siswanya. Ciri guru yang populer di kalangan siswa satu di antaranya yaitu mampu menghadapi siswa yang kurang perhatian, suka menyela, atau bahkan siswa yang suka mengalihkan pembicaraan. Biasanya, guru tersebut sangat terbuka untuk dicurhati dan tidak akan membanding-bandingkan siswa tersebut dengan siswa lainnya, apalagi membandingkan antargenerasi. Mampu Memposisikan Diri dalam Berbagai Situasi Guru memiliki peran yang sangat sentral di sekolah. Nggak heran, sebagian orang mengatakan guru sebagai orang tua kedua bagi siswa. Selain memposisikan diri sebagai guru, terkadang dalam situasi tertentu seorang guru juga harus menempatkan dirinya sebagai orang tua, sahabat, motivator, atau bahkan menjadi mediator bagi siswanya. Seorang pengajar yang mampu memposisikan diri dalam berbagai situasi akan menjadi akrab dan disukai oleh anak didiknya. Mereka mampu memahami suka duka seorang murid, bagaimana kehidupannya, serta mampu menawarkan solusi untuk mengatasi masalah yang dialami siswanya. Bisa Menjadi Tempat Bercerita Karakteristik yang terakhir yaitu bisa menjadi tempat bercerita. Dalam artian, selain mampu mendengarkan cerita siswa dengan baik, guru tersebut bisa dipercaya untuk menjaga kerahasiaan ceritanya. Kalau dicurhatin masalah guru atau siswa di sekolah, nggak dibocorkan ke pihak terkait. Guru yang seperti ini biasanya sangat komunikatif yakni mudah menjalin komunikasi dengan siswanya. Jadi, siswa nggak merasa takut atau tidak nyaman untuk bercerita banyak dengan gurunya. Pentingnya Karakteristik Guru yang Baik dalam Proses Pembelajaran Gimana, Pahamifren? Dari karakteristik guru di atas, adakah guru di sekolah kamu yang termasuk di dalamnya? Apakah guru favoritmu juga memiliki kriteria tersebut? Ternyata, guru yang baik dan disenangi oleh siswa punya pengaruh yang penting dalam proses pembelajaran, lho. Guru yang baik akan menghadirkan suasana pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. Pola pembelajaran yang diajarkan pun bisa merangkul dan menyatukan visi misi setiap siswanya. Jika siswa sudah merasa senang dengan cara guru mengajar, otomatis minat mereka terhadap mata pelajaran tersebut akan meningkat. Hal ini tentu berdampak pada prestasi atau hasil belajar siswa yang memuaskan. Nah, itulah beberapa karakteristik guru yang baik disukai oleh siswa. Mudah-mudahan, ulasan kali ini bisa menjadi referensi untuk para guru dan siswa. Buat siswa yang ingin mendapatkan proses belajar menyenangkan di luar sekolah, kamu bisa menggunakan aplikasi belajar online Pahamify. Dilengkapi video materi berkonsep gamifikasi, Pahamify bisa membantumu belajar online di rumah dengan cara seru dan bikin paham. Kamu juga bisa mendapatkan berbagai fitur belajar untuk persiapan kuliah, mulai dari SNMPTN, UTBK SBMPTN, hingga Ujian Mandiri, lho. Tunggu apalagi, yuk download aplikasi Pahamify di link ini sekarang! Jangan lupa ikuti TryOut Pahamiy Premium sebagai persiapan UTBK. Cek penawaran spesial langganan premium Pahamify di laman Promo. Penulis Fitri Dewanty – SEO Content Writer Pahamify Pahami Artikel Lainnya
Como podemos distinguir uma boa escola de uma ruim? Publicado em 06/11/2018 - 1605 O que as escolas devem ensinar? Como elas devem fazer isso? E como sabemos se estamos fazendo a escolha certa? Estas são perguntas incrivelmente importantes e devem ser respondidas de acordo com as necessidades sociais. A maneira que as escolas são projetadas e o que os alunos aprendem deve ser constantemente revisado, examinado e refinado. A maioria dos padrões acadêmicos modernos adota uma abordagem simples para a educação. Por que a educação, como um sistema, não pode se refazer tão agressivamente quanto a tecnologia digital? A fluidez de um determinado currículo deve, pelo menos, coincidir com a fluidez das exigências do conhecimento moderno. Nesta era de acesso à informação, nuvens inteligentes e piora da desigualdade socioeconômica, podemos considerar se deveríamos estar ensinando conteúdo, ou melhor, ensinando os alunos a pensar , projetar seus próprios caminhos de aprendizagem e criar e fazer extraordinários. coisas que são valiosas para eles em seu lugar? Como uma escola pode se chamar de “boa” quando produz estudantes que não conhecem a si mesmos, o mundo ou o lugar deles? As características de uma boa escola Uma boa escola melhora visivelmente e substantivamente a comunidade em que está inserida. Uma boa escola adapta-se rapidamente à mudanças sociais. Uma boa escola usa todos os recursos, vantagens e oportunidades que tem para crescer e tende a ter mais recursos, vantagens e oportunidades do que as escolas de baixo desempenho. Uma boa escola tem estudantes que se dão bem e apoiam uns aos outros em direção a um objetivo comum. Uma boa escola produz estudantes que lêem e escrevem porque querem. Uma boa escola admite seus fracassos e limitações enquanto trabalha em conjunto com uma “comunidade global” para crescer. Uma boa escola tem medidas diversas e convincentes de sucesso – medidas que famílias e comunidades entendem e valorizam. Uma boa escola é cheia de estudantes que sabem o que vale a pena entender. Uma boa escola fala a língua das crianças, famílias e da comunidade que serve. Uma boa escola melhora outras escolas e organizações culturais com as quais ela está conectada. Uma boa escola compreende a relação entre a curiosidade, a investigação e as mudanças humanas. Uma boa escola garante que todos os alunos e familiares se sintam bem-vindos e compreendidos em igualdade de condições. Uma boa escola é cheia de alunos que não só fazem grandes perguntas, mas as fazem com muita frequência e ferocidade. Uma boa escola muda os alunos; os estudantes mudam grandes escolas. Uma boa escola entende a diferença entre uma má ideia e a má implementação de uma boa ideia. Uma boa escola usa o desenvolvimento profissional projetado para melhorar a capacidade do professor ao longo do tempo. Uma boa escola não faz promessas vazias, cria declarações enganosas ou engana pais e membros da comunidade com promessas. É autêntica e transparente. Uma boa escola valoriza seus professores, administradores e pais como agentes do sucesso do aluno. Uma boa escola está disposta a “mudar de ideia” diante de tendências, dados, desafios e oportunidades relevantes. Uma boa escola ensina pensamento, não conteúdo. Uma boa escola se descentra – torna a tecnologia, o currículo, as políticas e suas outras “peças” menos visíveis do que os estudantes. Uma boa escola perturba as más práticas culturais. Isso inclui intolerância baseada em raça, renda, fé e preferência sexual, aliteração e apatia pelo meio ambiente. Uma boa escola produz estudantes que se identificam em seu próprio contexto, em vez de meramente serem “bons alunos”. Esses contextos devem incluir fatores e ideias geográficas, culturais, baseadas na comunidade e voltadas para a linguagem. Uma boa escola produz estudantes que têm uma esperança pessoal podem articular, acreditar e compartilhar com os outros. Uma boa escola produz alunos que podem empatizar, criticar, proteger, amar, inspirar, fazer, projetar, restaurar e entender quase qualquer coisa. Uma boa escola se conectará com outras boas escolas – e conectará os alunos também. Uma boa escola está mais preocupada com práticas culturais do que com práticas pedagógicas – estudantes e famílias do que com outras escolas ou com o status quo educacional. Uma boa escola ajuda os alunos a entender a natureza do conhecimento – seus tipos, fluidez, usos, abusos, aplicações, etc. Uma boa escola experimentará rupturas em seus próprios padrões, práticas e valores, porque seus alunos são criativos, capacitados e conectados, e causam mudanças imprevisíveis. Uma boa escola produzirá estudantes que possam pensar criticamente – sobre questões de interesse humano, curiosidade, arte, artesanato, legado, agricultura e muito mais. Uma boa escola ajudará os alunos a se verem em termos de enquadramento histórico, legado familiar, contexto social e conectividade global. Uma boa escola quer todos os alunos tenham o mesmo nível de ensino. Uma boa escola tem uma ótima biblioteca. Uma boa escola pode ter espaços criadores e programas maravilhosos de artes e humanidades, mas o mais importante é que esses tipos de espaços de aprendizagem são caracterizados pelos alunos e suas ideias, e não pelos próprios programas’ e tecnologias. Uma boa escola é cheia de alegria, curiosidade, esperança, conhecimento e constante mudança. Uma boa escola admite quando tem um problema, em vez de esconder ou “reenquadrá-lo como uma oportunidade”. Uma boa escola não tem reuniões desnecessárias. Uma boa escola não gasta dinheiro só porque está disponível. Uma boa escola valoriza a aprendizagem baseada em projetos. Uma boa escola explica os resultados dos testes de maneira honesta e dentro do contexto. Uma boa escola nunca desiste de um aluno. Uma boa escola não tem medo de pedir ajuda. Uma boa escola vê o futuro do aprendizado e se funde com o potencial do presente. Uma boa escola não se forma com pouca ou nenhuma esperança para o futuro. Uma boa escola separa conhecimento, compreensão, habilidades e competências – e ajuda os alunos a fazer o mesmo. Uma boa escola sabe incentivar os alunos superdotados e apoiar alunos em dificuldades. Uma boa escola se beneficia dos dons e recursos de seus alunos e de suas famílias para reforçar o sistema de ensino. Uma boa escola não esgota professores e administradores. Uma boa escola é aberta para aprender, ensinar, visitar e experimentar. Uma boa escola procura cultivar grandes mestres. Equipe do site Escola Educação.
- Semakin maju perkembangan zaman, makin banyak pula penelitian yang menunjang dunia pendidikan. Termasuk temuan gaya belajar yang berbeda-beda pada tiap anak. Baik siswa, orangtua maupun guru, perlu memerhatikan gaya belajar anak ini. Sehingga kemampuan menangkap suatu materi pelajaran antara satu siswa dengan yang lain tidak bisa dipukul sama daya tangkap suatu pelajaran tiap siswa ini bisa saja disebabkan gaya belajar yang berbeda-beda. Melansir dari laman Ruang Guru, Sabtu 11/9/2021, setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Ada yang suka belajar sambil mendengar musik, ada juga yang lebih suka dengan suasana tenang. Tapi ada yang menyukai belajar dari praktik atau lebih menyukai belajar cukup dari baca buku saja. Baca juga Astra Honda Motor Buka 5 Lowongan Kerja bagi Lulusan S1 Dengan referensi belajar yang berbeda ini, maka setiap orang memiliki cara belajar efektif berbeda untuk satu sama lain. Untuk memudahkan proses belajar, siswa harus tahu dulu gaya belajar seperti apa yang sesuai dengan karaktermu. Menurut Bobby De Potter, gaya belajar seseorang dibagi menjadi tiga tipe, yaitu visual, auditori, dan kinestetik. Yuk, kita pelajari lebih dalam dengan gaya belajar ini. Gaya belajar visual Gaya belajar visual berfokus pada penglihatan. Saat mempelajari hal baru, biasanya tipe ini perlu melihat sesuatu secara visual untuk lebih mudah mengerti dan memahami. Selain itu, tipe visual juga lebih nyaman belajar dengan pengunaan warna-warna, garis, maupun bentuk. Itulah mengapa, orang yang memiliki tipe visual biasanya memiliki pemahaman yang mendalam dengan nilai artistik seperti paduan warna dan lainnya. Baca juga Unpar Buka Jalur Tanpa Tes bagi Mahasiswa Baru 2022, Simak Syaratnya Karakteristik gaya belajar visual Rapi dan teratur Lebih mudah mengingat dari yang dilihat daripada yang didengar Lebih suka membaca daripada dibacakan Berbicara dengan tempo agak cepat Pembaca yang cepat dan tekun Lebih menyukai melakukan demonstrasi daripada pidato Sulit untuk menerima instruksi secara verbal kecuali ditulis Tidak mudah terganggu dengan keramaian Suka menggambar apa pun di kertas Mengetahui apa yang ingin dikatakan, tapi sulit memilih kata-kata. Cara belajar yang tepat untuk visual Belajar dari gambar maupun video belajar yang menarik Membaca buku yang tidak hanya tulisan saja tetapi juga memiliki ilustrasi Saat belajar bisa sambil lakukan doodling supaya lebih fokus Gunakan spidol warna-warni saat membuat catatan Membuat mind mapping untuk memudahkan belajar. Baca juga Mahasiswa UM Surabaya Ingatkan Bahaya Pinjol Ilegal lewat Mural Gaya belajar auditori Bagi kamu yang memiliki gaya belajar auditori, biasanya lebih mengandalkan pendengaran untuk menerima informasi dan pengetahuan. Siswa dengan tipe auditori tidak masalah dengan tampilan visual saat mengajar, yang penting adalah mendengarkan pembicaraan guru dengan baik dan jelas. Tipe auditori biasanya paling peka dan hafal dari setiap ucapan yang pernah didengar bukan apa yang dilihat. Karakteristik gaya belajar auditori Lebih mudah mengingat sesuatu dari apa yang didengar daripada yang dilihat Berbicara pada diri sendiri saat belajar Senang mendengarkan Mudah terganggu dengan keramaian Kesulitan dalam tugas atau pekerjaan yang melibatkan visual Pandai menirukan nada atau pun irama suara Senang membaca dengan mengeluarkan suara atau menggerakkan bibir mereka Suka berbicara, berdiskusi, atau menjelaskan sesuatu yang panjang Mudah dalam mengingat nama saat berkenalan dengan orang baru Kadang kesulitan dalam menulis tetapi pandai dalam bercerita. Cara belajar yang tepat untuk auditori Dengarkan musik yang disukai Bisa merekam saat guru mengajar lalu dikemudian hari didengarkan kembali Apabila membaca buku, bisa sambil diucapkan dengan suara pelan untuk lebih mudah mengingat Mendengarkan materi yang diajarkan guru saat di kelas dengan seksama Belajar dengan diskusi bersama teman supaya lebih mudah memahami maupun mengingat materi. Baca juga Calon Mahasiswa Wajib Tahu Materi Saintek Paling Sering Muncul di UTBK Gaya belajar kinestetik Selain dua gaya belajar di atas, masih ada gaya belajar lain yang bisa dimiliki siswa, Gaya belajar kinestetik lebih suka belajar yang melibatkan gerakan. Biasanya siswa dengan tipe ini, merasa lebih mudah mempelajari sesuatu tidak hanya sekadar membaca buku tetapi juga mempraktikkanya. Dengan melakukan atau menyentuh objek yang dipelajari akan memberikan pengalaman tersendiri bagi tipe kinestetik. Makanya, orang yang memiliki gaya belajar tipe kinestetik biasanya tidak betah berdiam lama-lama di kelas. Karakteristik gaya belajar kinestetik Menyenangi belajar dengan metode praktik Menyukai aktivitas yang melibatkan gerakan tubuh seperti olahraga atau menari Berbicara dengan perlahan Saat berkomunikasi banyak menggunakan isyarat tubuh Menghafal dengan cara berjalan atau melihat Menggunakan jari sebagai petunjuk saat membaca Tidak dapat duduk diam untuk waktu yang lama. Cara belajar yang tepat untuk kinestetik Saat mendapatkan materi belajar, bila memungkinkan segera coba praktikkan Belajar sambil melakukan aktivitas yang melibatkan gerakan, misalnya sambil berjalan atau sesederhana menjetikkan jari Melakukan eksperimen dari materi yang didapatkan dari guru Bisa mengunjungi tempat yang berhubungan materi di pelajaran, misalnya untuk pelajaran Sejarah bisa mengunjungi museum Mengikuti ekstrakurikuler seperti seperti KIR Kelompok Ilmiah Remaja. Baca juga Daikin Buka 2 Posisi Lowongan Kerja bagi Lulusan S1, Yuk Daftar Itulah perbedaan dari tiga gaya belajar menurut Bobby De Potter. Jika kamu sudah memahami 3 gaya belajar ini, bisa membantumu saat belajar dan menangkap pelajaran yang disampaikan guru atau dosen. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Sebuah tes dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur, apabila memenuhi persyaratan tes yang baik. Setidak-tidaknya ada empat ciri yang harus dimiliki oleh tes hasil belajar, sehingga tes tersebut dapat dinyatakan sebagai tes yang baik yaitu valid, reliabel, obyektif, dan praktis Anas Sudijono, 1996 93. Suharsimi Arikunto 2012 72 menyebutkan tes yang baik adalah tes yang memiliki validitas, reliabilitas, objektivitas, praktikabilitas, dan ekonomis. a. Validitas Tes hasil belajar yang baik adalah tes yang bersifat valid atau memiliki validitas. Sebuah data atau informasi dapat dikatakan valid apabila sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut dengan secara tepat, secara benar, secara shahih, atau secara absah dapat mengukur apa yang semestinya diukur. Tes hasil belajar dapat dinyatakan valid apabila tes tersebut sebagai alat pengukur keberhasilan belajar siswa dengan tepat, benar, shahih atau absah telah dapat mengukur atau mengungkap hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa, setelah mereka menempuh proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. b. Reliabilitas Kata realibititas sering diartikan sebagai keajegan atau kemantapan. Apabila dikaitkan dengan fungsi tes sebagai alat pengukur keberhasilan belajar siswa, maka sebuah tes dapat dikatakan reliabel apabila hasil-hasil pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan tes tersebut secara berulangkali terhadap subjek yang sama senantiasa menunjukkan hasil yang tetap atau sifatnya ajeg dan stabil Annas Sudijono, 1996 95. c. Objektifitas Objektif dalam pengertian sehari-hari adalah tidak adanya unsur pribadi yang mempengaruhi. Tes hasil belajar dikatakan objektif, apabila tes tersebut disusun dan dilaksanakan menurut apa adanya. Ditinjau dari segi isi atau materi tesnya maka kalimat apa adanya megandung pengertian bahwa materi tes tersebut adalah bersumber dari materi yang telah diberikan sesuai dengan tujuan instruksional khusus yang telah ditentukan. Ditilik dari segi pemberian skor, maka tes objektif adalah tes yang terhindar dari unsur-unsur subjektif unsur pribadi yang mempengaruhi. Misalnya tulisan yang lebih bagus mendapat skor yang lebih tinggi dari tulisan yang jelek meskipun memiliki jawaban yang sama. d. Praktikabilitas Sebuah tes dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila tes tersebut bersifat praktis, dan mudah pengadministrasiannya. Tes yang praktis adalah tes yang mudah dilaksanakan, mudah pemeriksaannya, dan dilengkapi 32 dengan petunjuk-petunjuk yang jelas sehingga dapat diberikan/ diawali oleh orang lain. e. Ekonomis Ekonomis yang dimaksud disini adalah bahwa pelaksanaan tes tersebut tidak membutuhkan biaya yang mahal, tenaga yang banyak, dan waktu yang lama. Bentuk-bentuk Tes Hasil Belajar Tes hasil belajar apabila ditinjau dari segi bentuk soalnya, dapat dibedakan menjadi tes bentuk uraian dan tes bentuk objektif. a. Tes Hasil Belajar Bentuk Uraian Tes hasil belajar bentuk uraian essay test yang juga sering dikenal dengan istilah tes subjektif adalah sejenis tes kemajuan belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian kata-kata. Menurut Anas Sudijono 2006 100 tes bentuk uraian adalah tes yang memiliki beberapa karakteristik yaitu; 1 tes tersebut berbentuk pertanyaan atau perintah yang menghendaki jawaban berupa uraian atau paparan kalimat yang biasanya cukup panjang, 2 bentuk-bentuk pertanyaan atau perintahnya menuntut testee untuk memberikan penjelasan, komentar, penafsiran, membandingkan, membedakan, dan sebagainya, 3 jumlah butir soalnya tidak banyak hanya berkisar lima sampai dengan sepuluh butir, 4 pada umumnya butir-butir soal tes uraian diawali dengan kata-kata jelaskan, mengapa, bagaimana, bandingkan, simpulkan dan sebagainya. Tes hasil belajar bentuk uraian memiliki kebaikan-kebaikan antara lain 1 mudah disiapkan dan disusun, 2 tidak memberi banyak kesempatan untuk berspekulasi atau untung-untungan, 3 mendorong siswa berani mengemukakan pendapat serta menyusun dalam bentuk kalimat yang bagus, 4 memberi kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan maksudnya dengan gaya bahasa dan caranya sendiri, 5 dapat diketahui sejauh mana siswa mendalami sesuatu masalah yang diteskan. Adapun kekurangan dari tes uraian adalah; 1 kadar validitas dan reliabilitasnya rendah karena sukar diketahui segi-segi mana dari pengetahuan siswa yang benar-benar telah dikuasai, 2 kurang representatif dalam mewakili seluruh scope bahan pelajaran yang akan dites karena soalnya hanya beberapa saja terbatas, 3 cara memeriksanya banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur subjektif, 4 pemeriksaannya lebih sulit sebab membutuhkan pertimbangan individual lebih banyak dari penilai, 5 waktu untuk koreksinya lama dan tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Bertitik tolak dari keunggulan dan kelemahan yang dimiliki oleh tes hasil belajar bentuk uraian yang telah dikemukakan di atas, maka ada beberapa petunjuk dalam penyusunannya yaitu 1 hendaknya soal-soal tes dapat meliputi ide-ide pokok dari bahan yang diteskan, dan kalau mungkin disusun soal yang sifatnya komprehensif, 2 hendaknya soal tidak mengambil kalimat-kalimat yang disalin langsung dari buku atau catatan, 3 pada waktu menyusun, soal-soal itu sudah dilengkapi dengan kunci jawaban serta pedoman penilaiannya, 4 hendaknya diusahakan agar pertanyaannya bervariasi antara jelaskan, mengapa, bagaimana, seberapa jauh, agar dapat diketahui lebih jauh penguasaan siswa terhadap bahan, 6 hendaknya rumusan soal dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dipahami oleh tercoba, 7 hendaknya ditegaskan model jawaban apa yang 34 dikendaki oleh penyusun tes, untuk ini pertanyaan tidak boleh terlalu umum, tetapi harus spesifik Suharsimi Arikunto, 2012 178-179. b. Tes Hasil Belajar Bentuk Objektif Tes objektif adalah tes hasil belajar yang terdiri dari butir-butir soal yang dapat dijawab oleh testee dengan jalan memilih salah satu atau lebih di antara beberapa kemungkinan jawaban yang telah dipasangkan pada masing-masing item atau dengan jalan menuliskan mengisiskan jawabannya berupa kata-kata atau simbol-simbol tertentu pada tempat atau ruang yang telah disediakan untuk masing-masing butir item yang bersangkutan Annas Sudijono, 1996 106-107. Sebagai salah satu jenis tes hasil belajar, tes objektif dibedakan menjadi beberapa macam yaitu tes objektif bentuk benar-salah, bentuk pilihan ganda, bentuk menjodohkan, bentuk isian, dan bentuk melengkapi. Masing-masing bentuk tersebut memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri. Tes objektif memiliki beberapa kebaikan diantara yaitu 1 mengandung lebih banyak segi-segi positif, misalnya lebih representatif mewakili isi dan luas bahan, lebih objektif, dapat dihindari campur tangannya unsur-unsur subjektif baik dari segi siswa maupun guru, 2 lebih mudah dan cepat cara memeriksanya karena dapat menggunakan kunci tes bahkan alat-alat hasil kemajuan teknologi, 3 pemeriksaannya dapat diserahkan pada orang lain, 4 pemeriksaannya tidak ada unsur subjektif yang mempengaruhi Suharsimi Arikunto, 2012 180. Adapun kelemahannya adalah 1 persiapan untuk menyusunnya jauh lebih sulit dari pada tes esai karena soalnya banyak dan harus teliti, 2 soal-soalnya cenderung untuk mengungkap ingatan dan pengenalan kembali saja, dan sukar untuk mengukur proses mental yang tinggi, 3 banyak kesempatan untuk main untung-untungan, 4 kerja sama antar siswa pada waktu mengerjakan soal lebih terbuka Suharsimi Arikunto, 2012 180.
ciri ciri siswa yang baik